BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian-uraian di atas dapat di
tarik kesimpulan bahwa Rasulullah SAW mepunyai 5 kemulian, yaitu :
1. Bersikap sederhana, sifat
tersebut terdapat pada bait ke 29 sampai 34,
sosok nabi sebagai pribadi sufi yang zuhud di tuturkan sebagai berikut:
Bait-ke 29
Transliterasi : [ Zhalamtu sunnatan man
achyazh zhulama] (40) ila,
Anisy-takat qadamahudh dhurra min warami.
Terjemah Indonesia : aku menzalimi abadah sunnah orang (Nabi
SAW) yang menghidupkan kegelapan (malam), orang yang mengadukan deritanya (pada
malam gelap itu) sehingga kakinya menjadi bengkak.
Bait-ke 30
Transliterasi
: wa syadda min saghabin achsya-ahu wa thawa,
[
Tachtal hijarati kasychan muthrafal adami](41).
Terjemah Indonesia : Orang itu (Nabi SAW) mengikat perutnya
sebab lapar, hingga ia mengikatkan batu di perutnya yang berkulit halus itu
sekedar menahan laparnya.
Bait-ke 31
Transliterasi : Wa rawadathul jibalus
syummi min zahabin,
‘An nafsihi [fa’araha
ayyama syamami] (42).
Terjemah Indonesia : Hingga gunung-gunung yang tinggi itu
menawarkan diri untuk menjadi emas kepadanya (Nabi SAW). Tapi beliau tetap
menolak tawaran itu.
Bait-ke 32
Transliterasi : Wa [akadat zuhdahu
fiha dharuratuhu] (43),
Innadh dharurata la ta’du
‘alal ‘ishami.
Terjemah Indonesia :penderitaan-penderitaan itu bahkan
menguatkan kezuhudannya (Nabi SAW) di dunia ini, sedangkan
penderitaan-penderitaan itu baginya tidak akan mengurangi martabat dan derajatnya
yang luhur.
Bait-ke 33
Transliterasi : [Wa kaifa tad’u ilad dunya dharuratu man,
Lau la hu
lam takhrijud dunya minal ‘adami]
(44).
Terjemah Indonesia : Seperti apkah penderitaan orang itu bisa
menarik dunia ini. Seandainya orang itu tiada, pasti dunia ini tiada
diciptakan.
Bait-ke 34
Transliterasi : [Muhammadun sayyidul
kaunaini wats tsaqalain,
Wal
fariqaini min ‘urbin wa min ‘ajami] (45).
Terjemah Indonesia : Yaitu Nabi Muhammad SAW yang menguasai
(jadi pimpinan) dunia dan akhirat, pemimpinnya manusia dan jin, dan pemimpin
bangsa Arab dan ‘Ajam (non Arab).
2. Pribadi Paripurna, sifat
tersebut terdapat pada bait ke 35 yang menceritakan tentang taqwa dan terdapat
dalam bait berikut:
Bait ke-35
Transliterasi :
[Nabiyyatul amirun nahi fa la ahadun,
Abarra
fi qauli la minhu wa la na’ami]
(46).
Terjemah Indonesia : Nabi kita (Nabi SAW) yang selalu
memerintahkan (kebaikan) dan selalu mencegah (dari kemungkaran). Maka tiada
seorangpun yang lebih baik dalam perkataan dan perbuatan dibanding dengan
beliau.
3. Sebagai Kekasih Allah SWT,
hal ini terdapat pada bait ke 36, sebagai berikut:
Bait ke-36
Transliterasi :
[Huwaal habib ul ladzi turja syafa’atuhu,
Abarra
fi qauli la minhu wa la na’ami]
(47).
Terjemah Indonesia :
beliau adalah kekasih yang selalu dinanti dan diharapkan syafa’atnya
(pertolongannya) dari segala malapetaka yang menimpa.
4. Sebagai penjabar Al-Quran,
hal ini terdapat pada bait ke 37, Nilai sufistik tentang I’tisham bi
hablillah terdapat dalam bait berikut:
Bait ke-37
Transliterasi
: [Da’a ilallahi fal
mustamsikuna bih,
Mustamsikuna
bi hablin ghaira munfashimi]
(48).
Terjemah
Indonesia : Beliau Nabi SAW mengajak
kepada (agama) Allah dan beliau berpegang teguh padanya, (bagaikan) berpegang
teguh pada tali (ikatan) yang tak putus.
5. Pandai berserah diri, hal ini
terdapat pada bait ke 77, Pribabi Nabi SAW yang tawakkal kepada Allah secara
implisit terdapat dalam bait berikut:
Bait ke-77
Transliterasi
: [ Fash-shidqu fil
ghari wash-shidqu lam yari,
Wa
hum yaquluna ma bil ghari min arami] (49).
Terjemah
Indonesia : adapun orang yang benar
(Nabi SAW) dan yang membenarkan (Abu Bakar AS) di dalam gua tiada pergi, tetapi
orang-orang kafir berkata bahwa didalam gua itu tiada seorang pun yang tinggal.
B.Saran
1) Dengan pemaparan yang telah di jelaskan di atas,
hendaknya para pembaca untuk mencontoh pribadi Rasulullah SAW, dengan selalu
mengingatnya dan memcakan shalawat setiap waktu.
2) Janganlah pembaca merasa puas dengan hanya membaca
tulisan ini, karena masih banyak permasalahan yang belum termuat dalam paper
ini.
3) Sebaiknya pembaca meneliti lebih jauh lagi pembahasan ini
dengan membaca refarensi-refensi yang lain yang lebih lengkap.
e='marg�!et�'(�add-space:auto;
text-align:justify;line-height:150%;tab-stops:35.45pt'>
Nabi Muhammad SAW mendapatkan posisi terhormat
sebagai
habib (kekasih) Allaoh dan umatnya. Rasa cinta umat islam kepada
beliau bersumber dari karakter nabi SAW yang selalu menebarkan cinta kasih
kepada siapapun, baik kepad Allah SWT, sesama manusia, maupun makhluk lainnya.
Status
habib (kekasih) merupakn pantulan (feedback) dari kesempurnaan
akhlak Nabi SAW.
Seorang sufi sejati, tidak
semata mementingkan nilai sufistik secara individual, tetapi juga menyertainya
dengan nilai sufistik sosial.
Bait ke-36
Transliterasi :
[Huwaal habib ul ladzi turja syafa’atuhu,
Abarra
fi qauli la minhu wa la na’ami]
(47).
Terjemah Indonesia :
beliau adalah kekasih yang selalu dinanti dan diharapkan syafa’atnya
(pertolongannya) dari segala malapetaka yang menimpa.
Pada bait ke-36, Nabi SAW
digambarkan sebagai [huwal habib] (beliau adalah kekasih), artinya
sebagai pribadi yang selalu dicintai. Selama hidupnya, Nabi SAW selalu
mengasihi sesama manusia, bahkan terhadap musuhnya sekalipun. Dalam sebuah
hadits dikisahkan, Nabi SAW pernah mengunjungi orang yang sakit, padahal dia
sebelumnya selalu menyakiti nabi SAW. Rasa cinta kasih beliau telah menghapus segenap
rasa dendam walaupun terhadap orang yang pernah menzalimi bbeliau. Bahkan dalam
keadaan perang sekalipun, sebagai panglima perang tertinggi, Nabi SAW tetap
memerintahkan pasukannya untuk tidak menyakiti musuh yang telah kalah menyerah,
tidak mengusik orang-orang kafir yang tidak ikut berperang, serta tidak
menganiaya anak-anak dan wanita kafir. Bahkan Nabi menyerukan agar tidak
merusak infrastruktur sosial ekonomi orang kafir seperti lahan perkebunan,
pepohonan dan lain-lain. Hal ini mencerminkan pribadi Nabi sebagai orang yang
selalu mencintai dan dicintai oleh Allah dan umatnya.
d.
Sebagai Penjabar Al-Quran
Yang
dimaksud dengan hablillah (tali Allah) tiada lain adalah Al-Quran. Jadi,
konsep i’tisham bi hablillah berarti memegang teguh ajaran-ajaran Allah
yang tterdapat di dalam Al-Quran. Seorang sufi sejati memiliki sikap dan
tingkah laku yang tidak keluar jalur dari jalan Allah SWT. Agar berada di jalan
Allah, maka umat Islam tinggal mengikuti apa yang telah secara konkrit
dilakukan oleh Nabi SAW. I’tisham bi hablillah adalah spirit untuk
memberi solusi terhadap instabilitas kehidupan manusia yang jauh dari tuntunan
illahi.
Nilai
sufistik tentang I’tisham bi hablillah terdapat dalam bait berikut:
Bait ke-37
Transliterasi
: [Da’a ilallahi fal mustamsikuna
bih,
Mustamsikuna
bi hablin ghaira munfashimi]
(48).
Terjemah
Indonesia : Beliau Nabi SAW mengajak
kepada (agama) Allah dan beliau berpegang teguh padanya, (bagaikan) berpegang
teguh pada tali (ikatan) yang tak putus.
Dalam
bait tersebut, terdapat lafadz mustamsikuna bihi yang berarti
orang-orang yang berpegang teguh terhadap agama Allah SWT, yakni islam.
Rasulullas SAW di utus oleh Allah SWT ke muka bumi ini untuk mengajak umat
manusia berpegang teguh kepada agama Allah SWT, yaitu islam. Barang siapa yang
berpegang teguh kepada islam; yakni menjalankan segala perintah nya dan
menjauhi segala larangannya, berarti dia memiliki pegangan yang kuat dan sulit
untuk dilepaskan.
Sebagai
teladan terbaik, Nabi Muhammad SAW mengajak seluruh umat manusia, terlebih
kepada umatnya, untuk senantiasa melakukan kebaikan dan menebarkan perdamaian.
Bila seruannya itu di tunaikan oleh umatnya, maka ketentraman dan keberhasilan
dalam hiduppun akan tercapai. Demikian pula beliau selalu mencegah dan melarang
berbuat kerusakan, baik kerusakan yang akan berdampak di dunia ini maupun yang
akan terjadi di akhirat kelak. Kekuasaan umumnya selalu mendorong manusia untuk
bersikap sombong, dan angkuh. Namun tidak demikian halnya dengan Nabi, meskipun
memiliki kekuasaan yang sangat luas, beliau selalu menunjukan sikap rendah hati
yang ramah terhadap sesama manusia.
e.
Pandai Berserah Diri
Tawakkal
berasal dari kata tawakkala- yatawakkalu- tawakkulan yang berarti “
mewakilkan atau menyerahkan sesuatu urusan kepada selain dirinya”. Dalam ruang
lingkup ajaran sufistik, tawakkal berarti “ menyerahkan segenap urusan
pribadinya kepada Allah SWT setelah melakukan usaha yang optimal (ikhtiar)”.
Setelah
berikhtiar, seorang sufi sejati selalu berserah diri kepada Allah SWT. Sufi
sejati selalu byakin bahwa hanya Allah-lah yang akan menentukan hasil akhir
dari semua usaha yang telah ia curahkan. Tawakkal merupakan rangkaian
akhir dari ikhtiar (optimalisasi diri) dan merupakan sebuahh sikap husnuzhan
(berbaik sangka) terhadap Allah SWT.
Pribabi
Nabi SAW yang tawakkal kepada Allah secara implisit terdapat dalam bait ke-77:
Bait ke-77
Transliterasi
: [ Fash-shidqu fil
ghari wash-shidqu lam yari,
Wa
hum yaquluna ma bil ghari min arami] (49).
Terjemah
Indonesia : adapun orang yang benar
(Nabi SAW) dan yang membenarkan (Abu Bakar AS) di dalam gua tiada pergi, tetapi
orang-orang kafir berkata bahwa didalam gua itu tiada seorang pun yang tinggal.
Dalam
bait tersebut digambarkan sekelumit peristiwa yang terjadi saat Nabi SAW hijrah
ke Yatsrib (Madinah), dittemani Abu Bakar As-Shiddiq. Pada saat hijrah, status
Nabi Muhammad SAW adalah “ buronan” kaum kafir Quraisy. Para pemuka Quraisy
menyerukan untuk menangkap nabi, hidup atau mati. Ini merupakan bentuk
konspirasi orang kafir untuk menghapus ajaran Islam dan pimpinannya.
Konspirasi
yang melibatkan semua kabillah Mekkah ini tentu saja menyulitkan nabi untuk
dapat selamat dari kejaran mereka. Namun, Nabi Muhammad SAW tetap berikhtiar
untuk bisa keluar dari rumahnya untuk berhijrah. Dengan sebuah strategi ikhtiar
yang penuh perhittungan, bersama Abu Bakar, nabi hijrah ke Madinah dengan
menempuh jalur yang tidak biasa di tempuh ole suku Quraisy.
Dalam
perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk tinggal sebentar di gua Tsur
yang terletak di selatan Mekkah. Ini dilakukan untuk mengecoh perhatian mereka.
Tetapi ikhtiar ini pun akhirnya terbaca oleh suku Quraisy , sehingga mereka
mengejar Nabi Muhammad SAW sampai ke gua Tsur. Saat ada beberapa orang Quraisy
yang tiba menghampiri mulut gua tersebut, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar pun
berserah diri kepada Allah SWt akan nasib hidup mereka berdua dengan
mengatakan: “ ...innallaha ma’ana (sesungguhnya tuhan bersama
kita).
Kemudian
Allah SWT pun mematahkan logika orang kafir dengan menghadirkan laba-laba yang
sedang tenang diam di jaring-jaring yang di buatnya, dan burung merpati yang
sedang diam di sarangnya dengan tenang di
mulut gua tersebut. Dengan kehadiran dua makhluk tersebut, orang kafir
yang berada di mulut gua pun terkecoh, mereka berfikir tidak mungkin nabi
Muhammad SAW dan Abu bakar ada di dalam gua.
zhan
bi�'(� terhadap Allah SWT.
Pribabi
Nabi SAW yang tawakkal kepada Allah secara implisit terdapat dalam bait ke-77:
Bait ke-77
Transliterasi
: [ Fash-shidqu fil
ghari wash-shidqu lam yari,
Wa
hum yaquluna ma bil ghari min arami] (49).
Terjemah
Indonesia : adapun orang yang benar
(Nabi SAW) dan yang membenarkan (Abu Bakar AS) di dalam gua tiada pergi, tetapi
orang-orang kafir berkata bahwa didalam gua itu tiada seorang pun yang tinggal.
Dalam
bait tersebut digambarkan sekelumit peristiwa yang terjadi saat Nabi SAW hijrah
ke Yatsrib (Madinah), dittemani Abu Bakar As-Shiddiq. Pada saat hijrah, status
Nabi Muhammad SAW adalah “ buronan” kaum kafir Quraisy. Para pemuka Quraisy
menyerukan untuk menangkap nabi, hidup atau mati. Ini merupakan bentuk
konspirasi orang kafir untuk menghapus ajaran Islam dan pimpinannya.
Konspirasi
yang melibatkan semua kabillah Mekkah ini tentu saja menyulitkan nabi untuk
dapat selamat dari kejaran mereka. Namun, Nabi Muhammad SAW tetap berikhtiar
untuk bisa keluar dari rumahnya untuk berhijrah. Dengan sebuah strategi ikhtiar
yang penuh perhittungan, bersama Abu Bakar, nabi hijrah ke Madinah dengan
menempuh jalur yang tidak biasa di tempuh ole suku Quraisy.
Dalam
perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk tinggal sebentar di gua Tsur
yang terletak di selatan Mekkah. Ini dilakukan untuk mengecoh perhatian mereka.
Tetapi ikhtiar ini pun akhirnya terbaca oleh suku Quraisy , sehingga mereka
mengejar Nabi Muhammad SAW sampai ke gua Tsur. Saat ada beberapa orang Quraisy
yang tiba menghampiri mulut gua tersebut, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar pun
berserah diri kepada Allah SWt akan nasib hidup mereka berdua dengan
mengatakan: “ ...innallaha ma’ana (sesungguhnya tuhan bersama
kita).
Kemudian
Allah SWT pun mematahkan logika orang kafir dengan menghadirkan laba-laba yang
sedang tenang diam di jaring-jaring yang di buatnya, dan burung merpati yang
sedang diam di sarangnya dengan tenang di
mulut gua tersebut. Dengan kehadiran dua makhluk tersebut, orang kafir
yang berada di mulut gua pun terkecoh, mereka berfikir tidak mungkin nabi
Muhammad SAW dan Abu bakar ada di dalam gua.