Jumat, 14 September 2012

GADIS KECIL


“Permisi…permisi…!!” gadis kecil itu memanggil orang-orang yang ada di dalam rumah yang besar.Tak lama, keluarlah seorang laki-laki paruh baya dengan gelas di tangannya.Laki-laki itu bernama pak Dedi.
“iya de…ada apa ?? jual siput ya ?? tebak bapak itu.
“Iya pa, ini ada 25 ekor..”  jawab gadis kecil itu seraya menyerahkan sekantong siput yang dibawanya.
“Baiklah, tunggu sebentar nak !!”  seru bapak itu sambil menerima sekantong siput dan masuk kedalam bermaksud mengambil uang.
“Ini nak uangnya, kembaliannya ambil saja olehmu.”  kata bapak itu sambil menyerahkan uangnya.
“Terimakasih banyak pa !!” ucap gadis kecil itu dengan wajah berseri-seri.
Pak Dedi hanya tersenyum sambil masuk kedalam rumah.Gadis kecil pun berlari-lari kegirangan, kebiasaan itu selalu dia lakukan ketika mendapat uang.Gadis kecil itu bernama Sinta, dia anak pasangan suami-istri yang miskin.Adiknya yang bernama Santi tak jauh beda umurnya dengan Sinta.Dia juga punya 2 orang kakak perempuan, kak Syifa dan kak Rufayda namanya. Mereka sedang bekerja di kota.Orangtuanya tak mampu membiayai anak-anaknya, hal tersebut membuat Sinta harus bekerja keras.Setiap hari dia mengambil siput disawah untuk di jual kepada pak Dedi untuk makan bebeknya.Dia juga suka menjual buah jambu merah yang diambil dari pohon dekat rumahnya.Seringkali dia disuruh oleh orang-orang kaya untuk membersihkan rumah mereka.Dan sepertinya tangan anak berusia 7 tahun itu sudah terpakai oleh semua orang.Bapaknya seorang pengangguran yang hanya mengandalkan anak dan istrinya untuk bertahan hidup.Keadaan dia sehat, tapi dia tidak mau bekerja.Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki dewasa itu.Ibunya seorang buruh tani yang tak berpenghasilan tetap.Dia bekerja jika ada yang menyuruhnya.Dia juga sibuk mengasuh adik Sinta yang masih kecil.
“Bu, ada makanan ?perut Sinta sakit sekali bu !!”  keluh Sinta sambil memegang perutnya yang sakit.
“Sepertinya jambu merah sudah ada yang matang, kau ambil saja dan kau jual, baru kau bias makan nak !!”  kata ibunya sambil mengelus-elus kepala Sinta.
Sinta pun hanya tersenyum.Diambilnya kantong kresek dan langsung bergegas mendekati pohon jambu.Kaki dan tangannya memanjati pohon itu bagaikan cicak yang sedang merayap.
“Bruk..!!” Sinta meloncat dari pohon jambu yang tidak terlalu tinggi.
“Kak, Santi bantu membagi-bagi jambunya yah ? “  tawar adiknya dengan senang hati.
“Iya de, tolong bawa plastic kecilnya !!”  sambil menunjuk kearah meja.
“Ini ka..Hari ini cerah sekali ya kak, pasti jambunya laku semua kak..” ucap adeknya dengan penuh harapan.
“Iya ..Mudah-mudahan de.” balas Sinta sambil tersenyum lebar.
Setelah jambu merahnya tertata rapih dan terbagi rata, Santi memasukkan jambunya ke kresek besar.
“Do’akan kakak ya de, kakak berangkat dulu !!”  sambil mengusap kepala adiknya.
Santi pun manggut-manggut sambil tersenyum.
                                                                   *
“Jambu merahnya buuu… Jambunya paaa…De, jambu merahnya !!”  teriak Sinta dengan bersemangat .
Suara Sinta seolah menghipnotis orang-orang disekitarnya.Semua mata kini tertuju pada pedagang kecil yang sedang kelaparan itu.
“Berapa de jambunya ?”  tanya seorang ibu.
“2ribu 1 kantong bu.. Mau beli berapa ?”  lanjut Sinta dengan penuh harap.
“2 kantong saja de..”  jawab ibu itu sambil memberikan uang pasnya.
Tak lama, beberapa orang dari penjuru menghampiri pedagang jambu itu.Sinta pun sibuk melayani pembelinya.Kini setengah dari jambu jualannya habis dibeli oleh orang-orang yang merindukan kesegaran jambu merahnya.Setelah tak ada lagi orang yang akan membeli, Sinta berniat melanjutkan perjalanannya.Ia bermaksud menyebrangi jalan untuk berdagang di kampung sebelah.
“Aaaaaaaaaaaaaaa…Yaaa Allah..” Sinta berteriak histeris, badannya oleng sambil memegang tangannya yang terasa sakit.Setelah sadar, bahwa dirinya keserempet motor yang melajudengan cepat dan pengemudi ugal-ugalan itu langsung melarikan diri.Seluruh tubuh Sinta bergetar, detak jantungnya berdetak semakin cepat, matanya pun berkaca-kaca ketika melihat sisa jambu jualannya tergeletak ditengah jalan dan satu persatu hancur tergilas ban mobil yang lalu lalang didepan matanya.Tak ada jambu yang tersisa.
Seketika Sinta melihat ke sisi kanan dan kiri, tak ada orang disekitarnya, hanya orang-orang yang mengendarai motor yang melihatnya iba.Sinta pun melangkahkan kakinya dengan berat.Dia berjalan menunduk menyusuri jalan menuju rumahnya.
“Nak, ada apa dengan dirimu ? jambunya habis tidak ?.” tanya ibunya kebingungan.
“Habis bu, habis tergilas mobil.” jawab Sinta pasrah.
Sejenak ibunya Sinta manatap anaknya kebingungan dan bertanya.
“Maksud kamu .....”
“Tadi Sinta keserempet motor bu, orang yang nyerempet langsung kabur, jambunya jatuh dan tergilas mobil-mobil di jalan.” dengan cepat Sinta memotong pembicaraan ibunya.
“Ya Allah nak, kamu ga apa-apa ? Apa yang sakit nak ?”, tanya ibunya dengan panik seraya meraba-raba tubuh anaknya.
“Gak apa-apa ko bu, cuma tangan yang terasa pegal.”
“Sini nak ibu pijitin, sini duduk, siapa sih yang melakukannya ? Kalo ketemu, tak pukul-pukul sampai dia kapok.” ucap ibunya sedikit emosi.
“Sudahlah bu, do’akan saja mudah-mudahan dia diampuni oleh Allah SWT., lagian jambunya sebagian sedah terjual, tapi Cuma dapat 10ribu bu.” sambil menyerahkan uangnya.
“Iya nak, syukurlah...Asal cukup buat makan kamu dan adikmu.”
“Kita makan sama-sama aja ya bu ? Adik kemana bu ?”
“Iya sayang, ada ko didalam.”
Tak lama, tanpa dipanggil, Santi muncul dari balik pintu.
“Kakak kenapa ?” tanya Santi kaget.
“Kakakmu keserempet motor.” jawab ibunya.
Sinta hanya tersenyum simpul.
“De, tolong belikan nasi rames di warung depan ya ?” pinta ibunya seraya memberikn uang 10ribu.
“Baik bu.” dia pun langsung meluncur dengan cepat.
5 menit kemudian, Santi berjalan tersenyum dengan keresek di tangannya.
“Ayo bu, kak kita makan !” ajak Santi.
“Iya nak, panggil bapakmu didalam!” perintah ibunya pada Santi
Tanpa basa-basi, Santi langsung masuk kedalam rumah yang masih beralaskan tanah.Taka lama kemudian, Santi keluar membawa piring dan bapaknya mengikuti dibelakangnya.
“Adik makan sama kakak, ibu makan sama bapak yah ?” usul ibunya.
Semuanya manggut-manggut tanda setuju.Mereka makan dengan lahap bagaikan tidak makan dari SD.
Begitulah kehidupan mereka setiap harinya.Mereka berjuang keras untuk melewati pahitnya kehidupan.Hanya bapaknya yang selalu diam, seakan meratapi takdirnya.Diam, itulah yang selalu dia lakukan.
*
“Bu, kakak mau main masak-masakan sama adik boleh ya ?” pinta Sinta kepada ibunya.
“Iya bu, bboleh ya ?” paksa Santi.
“Iya sayang..” jawab ibunya tersenyum.
Kedua kakak beradik pun asik dengan permainan masak-masakannya.
Tiba-tiba, terlihat 2 orang perempuan yang salah satu dari perempuan tersebut  jalannya di papah oleh yang di sebelahnya.
“Assalamu’alaikum?” ucap kakak kandung mereka.
Seketika Sinta dan Santi terdiam sejenak, mereka bingung siapa yang hendak datang ke rumahnya.Berbarengan kepala mereka menengok ke arah suara yang datang.
“Kak Ufaaaaa....Kak Ifaaaaaa” mereka berteriak dengan penuh kegembiraan.
“Ehhh, jawab dulu salammya adik-adik!” Kak Ifa menegur ke2 adiknya.
Serempak mereka menjawab salam sebelum kemudian memyalami kakak-kakaknya.
“Kak Ufa kenapa ? Ko wajahnya pucat ?”  tanya Santi polos.
Kak Ufa hanya tersenyum.
“Kak Ufa sakit adik-adik, makannya kami pulang.” jawab Kak Ifa.
Mendengar hal itu, Santi lansung balik badan memasuki rumah bermaksud memberitahu orangtuanya.Bapaknya hanya menatapnya polos.Ibunya panik ketika mendengar berita buruk tersebut.Dengan terburu-buru ibunya langsung mendekap Kak Ufa dan menyuruhnya istirahat.Saat itu juga ibunya bertanya-tanya kepada Kak Ifa tentang penyakit yang menyerang Kak Ufa.
Tak ada berita yang pasti.Tak ada informasi yang aktual.Penyakit Kak Ufa tidak ada yang tahu.Kebingungan menguasai keluarganya.Selama ini, Kak Ufa lah yang menjadi tulang punggung keluarganya.Kini Kak Ufa sedang terbaring lemas diatas susunan kayu yang beralaskan sarung tipis.
“Dokter...Tak adakah dokter yang rela memeriksa tanpa mengharap bayaran ?.Bidan...Tak adakah bidan yang mau memberi obat gratis sekedar menghilangkan rasa sakit ?. Tak adalah ketulusan di dunia ini ? Keras, kejam, jahat dan betapa sadisnya hidup ini?” batin mereka dalam hatinya.
Sejak kakaknya sakit, setiap hari dia bekerja.Pagi, dia mencari siput.Siang, membersihkan rumah-rumah orang kaya di kampungnya.Sesekali dia memungut barang bekas lalu dikumpulkan dan dijualnya sekedar untuk membeli sesuap nasi.
Begitupun ibunya, tak diam saja.Setiap hari dia mencari uang.Apa saja dia lakukan demi mendapatkan uang, asalkan halal.Buruh cuci, buruh menyetrika, mengasuh anak tetangga, bahkan mencuci piring di salah satu pedagang bakso di kampungnya.
Kak Ifa ditugaskan untuk menjaga, memberi makan, dan merawat Kak Ufa ditemani oleh Santi yang selalu nurut kepada kakaknya.
Sedangkan bapaknya, tak ada yang dia lakukan, tak bisa diandalkan.Seisi rumah pun tak memperdulikannya.
1 minggu berlalu, membuat semuanya kewalahan.Keadaan Kak Ufa semakin memburuk, badannya yang semula sehat berisi kini menjadi kurus kering berpenyakit.
Bahkan sejak 3 hari yang lalu, Sinta sudah terbaring di kamar sempitnya.Mungkin dia terlalu kecapean karena setiap harinya kerja.Tapi, Sinta merasakan penyakitnya berbeda.Seringkali dadanya terasa sakit seakan ditusuk beribu-ribu jarum.Bahkan nafasnya tersendat-sendat.Sinta tidak memberi siapapun tentang sakit yang dialaminya, dia tidak mau merepotkan keluarganya.Keluarganya pun mengira  kalau Sinta hanya demam biasa.Karena mereka sibuk memikirkan Kak Ufa.
2 minggu terlewati, kini Kak Ufa tidak bisa melihat apa yang ada di sekitarnya, pandangannya tak jelas, buram, kabur.
Panik, khawatir, takut, sedih, perasaan campur aduk menggerayangi keluarganya.
*
“Nak, ibu sudah masak nasi dan tempe goreng di dapur.Makanlah ! Ibu buru-buru mau berangkat kerja.” terdengar suara ibunya dari balik pintu kamar Sinta.
Tak ada jawaban dari mulut anak tersebut, melainkan tetesan air matanya lah yang menjawabnya.Mulutnya terdiam, tapi hatinya menjerit.Ingin sekali dia beranjak dari tempat tidurnya dan ikut ibunya bekerja.Tapi apa daya, dia tak kuasa.Kini penyakit semakin menggerogoti tubuh mungilnya.Sinta merasakan ngilu di kakinya, perutnya yang sedari tadi melilit kelaparan membuat air matanya terus berjatuhan, bahkan dadanya sesak membuat Sinta tak bisa bernafas, tak mampu bergerak dan tak ada daya untuk bicara sepatah kata pun.
Sinta mampu bertahan sampai ibunya kembali pulang.Nasi dan tempe yang masih utuh membuat ibunya heran dan kebingungan.Bergegas ibunya melihat kondisi Sinta dikamar.
Sejenak ibunya terdiam...kaget...tak percaya apa yang sedang dilihatnya benar atau tidak.
“Masya Allah nak, kakimu kenapa ?”
Sinta terbangun dan melihat ibunya mendekatinya.Perlahan dia mengelus kedua kakinya yang sudah bengkak.
Wajah ibunya memerah, kelopak matanya tak mampu lagi menahan air matanya yang sudang menggenang.Ibunya menangis tersedu-sedu. “Maafkan ibu nak, ibu membiarkanmu selama ini, ibu terlalu khawatir akan kesehatan kakakmu sehingga ibu fikir kamu baik-bak saja.Bahkan ibu tak menyuapimu makan, tak memandikanmu, juga tak menjagamu dengan baik.Seharusnya ibu saja yang sakit.”
Tak sadar ternyata pipi Sinta sudah basah oleh air matanya.Dengan perlahan tangan Sinta bergerak kearah perutnya seakan memberi isyarat kepada ibunya untuk memberinya makan.
Ibunya langsung faham, segera ia kedapur mengambil makan dan kembali lagi untuk menyuapi Sinta.
Tak ada basa-basi lagi, dengan sigap ibunya langsung mendudukan Sinta dan dengan hati-hati menyuapi Sinta.Setelah selesai, kembali ibunya menidurkan Sinta.
Ibunya mengusap lembut wajah Sinta “Sebentar ya nak, ibu mau melihat kondisi kakakmu dulu !” kata ibunya lirih.
Sinta hanya membalas dengan anggukan pelannya.
Beberapa menit kemudian, ibunya kembali lagi.Kali ini ada yang berbeda, wajah Sinta berubah pucat, seluruh tubuhnya dingin, tak terlihat hembusan nafas dari hidungnya.
“Sinta!” ibunya mengguncang-guncang tubuh didepannya sambil berteriak.Tak ada reaksi. “Sinta? Kamu kenapa nak? Bangun sayang!”
Beberapa detik kemudian ibunya berteriak dari dalam kamar, “Toloooong, toloooooong !”
Kak ufa menciba mencari tahu asal suara tersebut.Bapaknya dan Sinta mengikutinya dari belakang.
Terlihat ibunya sedang menangis keras sambil memeluk Sinta.Semua  ini terjadi mendadak, sangat mendadak.Kak ifa, Santi dan bapaknya kebingungan.
“Ada apa bu ? Kenapa ibu menangis ? Sinta kenapa? ” tanya kak Ifa panik.
“Iya bu...Kak Sinta kenapa?” timpal Santi.
Kak Ifa mencoba menenangkan ibunya. “S-s-sinta, d-d-d-dia tidak bernafas lagi, d-d-dia meninggal.” jawab ibunya tergagap disela isak tangisnya.
Suasana haru biru menyelimuti keluarga mereka.Isak tangis terdengar dimana-mana.Tetangganya mulai berdatangan satu persatu.Salah satu dari tetangga dekatnya, tepatnya bu Ina.Dia memanggil dokter untuk memeriksa jenazah Sinta.
Setelah diperiksa, akhirnya ditemukan misteri yang selama ini belum terungkap.Ternyata Sinta mengidap penyakit jantung.Semua anggota keluarganya tersentak kaget.Tak ada yang mengira bahwa Sinta mengalami penyakit separah itu.
Ibunya tak kuasa menahan tangis hingga jatuh pingsan.Kak Ifa terkulai lemas didekat jenazah Sinta.
Semua tetangganya akan mengurus jenazah Sinta yang sudah terbujur kaku.Sinta yang sudah 1minggu tidak mandi dan tidak pula dimandikan, membuat pawa warga kewalahan.Rambutnya yang susah diatur, kukunya yang panjang dan kotor, serta kotoran lain yang menempel ditubuhnya di bersihkan sebersih-bersihnya.
“Kasian ya anak ini!”
“Nanti siapa yang akan membersihkan rumahku kalau tidak ada dia!” terdengar bisik-bisik dari warga yang sedang memandikan jenazah Sinta.
Tak ada yang tahu akan kematian.Semula kakaknya yang sakit parah, tapi Sinta lah yang akhirnya pulang duluan.Sinta adalah gadis kecil pekerja keras, setiap hari dia bekerja.Saking semangatnya dia bekerja, sampai-sampai dia tidak ingat akan kesehatan dirinya.Seringkali dia memberi makan keluarganya sedangkan dirinya tidak makan.Demi melihat keluarganya bahagia, apapun akan dia lakukan.Betapa murni hati gadis kecil tak berdosa itu.Kini ia kembali ke rumah Allah dengan tenang.