2.1
Qhasidah Al- Burdah
Istilah
Qhasidah berasal dari bahasa arab, yang kemudian dalam bahasa indonesia di
bakukan menjadi Qhasidah. Pengertian Qhasidah dalam khazanah kesusasteraan
indonesia mirip dengan dengan Qhasidah yang ada dalam sastra arab. Dalam kamus
besar bahasa indonesia (KBBI) dikatakan bahwa qhasidah merupakan “bentuk puisi,
berasal dari kesusateraan arab, bersifat pujian (satire, keagamaan),
biasanya dinyanyikan (dilagukan)” [Tim Penyusun Kamus, 1988:493]. Meskipun
demikian, istilah tersebut berbeda dengan apa yang di kenal dengan ungkapan “lagu qhasidah” yang umumnya
berbahasa indoesia.
Sebagai karya sastra arab klasik yang sangat
monumental, Qhasidah burdah masih dapat diterima oleh masyarakat luas dari
waktu ke waktu. Pada era globalisasi ini, Qhasidah masih menjadi pesona
masyarakat sastra di sejumlah negara di lima benua. Menurut manshur [2007:7],
para resepsi qhasidah ini hadir dalam berbagai tradisi yang hidup di asia, afrika, europa, amerika serikat, dan
australia. Resepsi tersebut umumnya adalah dalam bentuk karya tulis, naskah,
karya lisan, rekaman, dan seni pertunjukan [performing art]. Di indonesia
sendiri, qhasidah marak dikaji dii beberapa pesantren, termasuk di pondok
pesantren darussalam ciamis [PPDC].
Qhasidah
burdah selalu dibaca dan ditulis ulang oleh generasi yang berganti-ganti, bukan
semata karena ia populer, tetapi juga karena ekspresi spiritual yang di
kandungnya, yaitu rasa rindu, cinta dan penghormatan kepada nabi, Rasa rindu,
cinta dan penghormatan bersifat universal, tak terbatasi ruang dan waktu.
Demikian juga rasa rindu, cinta, dan
penghormatan kepada Nabi, tidak bisa dibatasi oleh pergantian zaman.
Di
kalangan para santri, potensi pemahaman dan penguasaan seni musik sebenarnya
cukup signifikan, potensi ini dapatdi kembangkan “energi rohani” yang dapat
digunakan untuk menggerakan nilai seni dan budaya. Musik dapat menjadi media
pembinaan nilai-nilai karakter seseorang melalui cita rassa seni berperadaban.
Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk membangun kepribadian yang sehat dan
kuat yaitu kepribadian religius. Dan pada gilirannya, nilai-nilai sufistik
Qhasidah Burdah pun dapat ditanamkan sebagai media pembinaan yang efektif
melalui syair-syair religius yang tersimpan didalamnya.
Qhasidah
Burdah adalah karya seorang penulis yang bergelar seniman dan ilmuan, bernama
Imam Syaraf al-Din Abu Sa’id al-Busyiri, seorang ulama sufi, sehingga isi dari
Qhasidah Burdah adalah pikiran-pikiran tenntang ajaran tasawuf. Jenis
musikalitas Qhasidah Burdah, dimasukan ke dalam jenis madhchu-naby yang
mengandung taranum musiqa atau senandung musik “arudly dengan bahar
[wazan/segmen] al-basith menunjukan arti”terbentang/terpapar”. Ini
karena memiliki jenis musik yang “memanjang datar” sehingga irama dari bait ke
bait memberikan corak yang hampir sama
nada-nadanya, kecuali dalam segmen baittertentu [al-Qanna’iy, 1986:6].
Karya
al-busyiri dengan Qhasidah burdahnya telah memberikan pengaruh besar terhadap
berbagai bentuk kesenian islam. Qhasidah burdah, sebagai karya sastra arab masa lampau yang
mendapat sambutan besar dari masyarakat sastra di sejumlah negara di lima benua
dari abad ke abad. Kemunculan Qhasidah burdah pada masa kekuasaan dinasti
mamluk, dipandang memiliki sejarah yang unik karena budaya arab pada masa itu,
telah mengalami kemajuan besar pada masa sebelumnya. Kemudian pada separuh
kekuasaan dinasti mamluk, karya-karya
sastra arab mengalami kemunduran secara kualitatif. Kemunculan Qhasidah burdah
pada masa kemunduran ini di pandang sebagai secercah cahaya yang menyinari umat
manusia yang hidup ditengah kegelapan [Manshur, 2007: 80].
Qhasidah
burdah merupakan karya sastra islam, karena mengandung cerita biografi nabi dan
berisi ajaran-ajaran tasawuf yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk menjadi
pijakan kehidupan spiritualnya. Sebagaimana pandangan Nasr [2003] didasarkan
pada asumsi, sastra adalah cermin spiritualitas islam. Asumsi ini berimplikasi
pada satu pandangan tentang islam dapat dipandang sebagai suatu budaya dan
peradaban [IG.E.von Grunebaum dalam Waardenburg, 1993:87].
Sastra
islam yang berkembang di dunia arab, terutama dalam bentuk karya sastra arab
berupa puisi [syair] dan prosa [natsr], telah berpengaruh kuat
terhadap kelahiran Qhasidah Burdah pada abad ke 13 masehi. Sejarah sastra arab
yang digunakan oleh al-Busyiri dalam Qhasidahnya.
Kekuatan
Qhasidah Burdah terletak pada pilihan kata-kata arab yang berpotensi fonisme,
hingga orang yang membaca dan mendengarkannya akan mendapatkan pengalaman
keindahan atau istilah jauss [1982:34] disebut fundamental experience of
aesthetic.
Al-Bushiry
nama lengkapnya adalah Syaraf al-Din Muchammad bin sa’id Chammad bin Abdullah
bin Shanhaji. Ia dilahirkan di Dalash,di desa Bani Yusuf pada tahun 1212 [abad
ke-13]. Ayahnya keturunan Maroko, dari desa Abu Shayr. Dari kedua nama, Dalash
dan Abu Shayr, muncul sebuah ungkapan ad-Dalashiry untuk nama Muhammad bin
Sa’id. Akan tetapi, karena mungkin bagi orang arab ungkapan itu sulit di
ucapkan dan sukar diingat, maka akhirnya ungkapan yang populer adalah
al-Bushiry [Mawardi, 1994].
Al-Bushiry
adalah seorang penyair arab sekaligus sebagai sufi terkenal [Hadi, 200:42,
Tottel, 1956:90] yang wafat di iskandariyah, Mesir pada tahun 1296 M dengan
meninggalkan warisan Qhasidan Burdah yang dibaca di sejumlah besar masjid di
mesir. Sebut saja Masjid al-Bushiry di iskandariyah, Masjid Imam Husayn, Masjid
Tarekat Ja’fariyah, dan Masjid Siti Zaynab di Cairo, dan Majid Nabawi di
Madinah. Di dinding masjid tersebut bait-bait Qhasidah Burdah ditempelkan [www.bbc.co.uk.2004;Manshur, 2006]
Al-Bushiry
kecil dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari al-quran dan ilmu-ilmu
agama islam.Selanjutnya, al-Bushiry belajar kepada ulama-ulama yang hidup pada
zamannya. Unntuk memperdalam ilmu agama dan kesusteraan Arab, ia pindah ke
cairo, dan di kota inilah al-Bushiry menjadi seorang sastrawan [penyair] yang
terkenal. Al-Bushiry termasuk penyair arab yang menghabiskan masa hidupnya
untuk menulis puisi [Gwinn, 1990:667] dan kemahirannya di bidang sastra,
khususnya puisi, telah melebihi para penyair lain pada zamannya. Selain itu,
karya-karya kaligrafi al-Bushiry terkenal indah, bahkan ia memiliki keahlian
dalam menyalin naskah-naskah www.amanah.or.id, Tottel 1952:90].
Al-Bushiry
sangat bergairah dan bersemangat mendalami ilmu-ilmu agama islam dari berbagai
guru, antara lain fiqih, hadits, dan terutama tasawuf. Berkat keluasan ilmu
yang dimilikinya itu, al-Bushiry akhirnya diangkat menjadi mufti [pemberi
fatwa] di Mesir yang bertugas memberikan fatwa-fatwa keagamaan kepada para
pejabat pemerintah.
Kecenderungannya
kepada tasawuf itulah yang mendorong al-Bushiry untuk lebih memperdalam
ilmu-ilmu tasawuf kepada guru sufi yang terkenal di mesir, yaitu Abu Hasan
as-syadzily yang kemudian kepada
penerusnya Abu Abbas al-Marsiy [Glasse, 1996:65]. Berdasarkan keluasan ilmunya,
al-Bushiry dipandang dan dipanggil sebagai al-imam, Al-Bushiry dianggap
tidak hanya sebagai ahli tasawuf tetapijuga sebagai ahli hukum [syari’ah].
Al-Bushiry
hidup dimasa transisi peralihan kekuasaan dari dinasti Ayyubiyah ke dinasti
mamluk Bachry. Masa ini adalah masa pergolakan politik yang tak ada
henti-hentinya, kemerosotan akhlak melanda hampir seluruh negeri, para pejjabat
pemerintahan mengejar kedudukan dan kemewahan. Pada masa yang suram inilah
kemudianmuncul Qhasidah Burdah sebagai reaksi terhadap situasi politik, sosial,
dan budaya yang terjadi pada masa itu. Al-Bushiry menyusun Qhasidah Burdah
dengan harapan umat islam bisa mencontoh kehidupan nabi dalammangendalikan hawa
nafsu dan kembali kepada ajaran agama yang murni, Al-quran dan hadits www.amanah.or.id.2004.
Pada
awalnya al-Bushiry dikenal sebagai penyair istana [poet of court] yang
hidup dalam kehidupan lingkungan kekuasaan Dinasti Mamluk pada abad ke-13
Masehi. Qhasidah Burdah ditulis oleh al-Bushiry kira-kira antara tahun 1260-
1268 M www.alhambraproduction.com.2003 ketika ia berusia 50 tahun.
Al-bushiry
wafat pada usia 84 tahun, yaitu pada tahun 1296 M. Al-Bushiry menghabiskan
sebagian besar masa hidupnya dilingkungan istana kerajaan Mamluk di Mesir
sambil menulis puisi-puisi pujian untuk nabi dan para putra mahkota kerajaan
[Qaribullah: 2002].
Akan
tetapi, setelah itu, Al-Bushiry memutuskan untuk mempelajari dan mendalami
tasawuf melalui bimbingan dua orang sufi besar pada zamannya, yaitu Abu Hasan
As-Syadzily dan Abu Abbas al-Marsy. Setelah meninggalkan lingkungan istana
danmendalami tasawuf, wibawa al-Bushiry menjadi besar, orang-orang dari
berbagai penjuru negeri berdatangan kepadanya untuk mendengarkan bait-bait
puisi pujiannya kepada Nabi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar