Jumat, 04 Januari 2013

asih bab ll



2.1                   Qhasidah Al- Burdah
            Istilah Qhasidah berasal dari bahasa arab, yang kemudian dalam bahasa indonesia di bakukan menjadi Qhasidah. Pengertian Qhasidah dalam khazanah kesusasteraan indonesia mirip dengan dengan Qhasidah yang ada dalam sastra arab. Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) dikatakan bahwa qhasidah merupakan “bentuk puisi, berasal dari kesusateraan arab, bersifat pujian (satire, keagamaan), biasanya dinyanyikan (dilagukan)” [Tim Penyusun Kamus, 1988:493]. Meskipun demikian, istilah tersebut berbeda dengan apa yang di kenal  dengan ungkapan “lagu qhasidah” yang umumnya berbahasa indoesia.
            Sebagai karya sastra arab klasik yang sangat monumental, Qhasidah burdah masih dapat diterima oleh masyarakat luas dari waktu ke waktu. Pada era globalisasi ini, Qhasidah masih menjadi pesona masyarakat sastra di sejumlah negara di lima benua. Menurut manshur [2007:7], para resepsi qhasidah ini hadir dalam berbagai tradisi yang hidup di  asia, afrika, europa, amerika serikat, dan australia. Resepsi tersebut umumnya adalah dalam bentuk karya tulis, naskah, karya lisan, rekaman, dan seni pertunjukan [performing art]. Di indonesia sendiri, qhasidah marak dikaji dii beberapa pesantren, termasuk di pondok pesantren darussalam ciamis [PPDC].
            Qhasidah burdah selalu dibaca dan ditulis ulang oleh generasi yang berganti-ganti, bukan semata karena ia populer, tetapi juga karena ekspresi spiritual yang di kandungnya, yaitu rasa rindu, cinta dan penghormatan kepada nabi, Rasa rindu, cinta dan penghormatan bersifat universal, tak terbatasi ruang dan waktu. Demikian juga rasa rindu, cinta,  dan penghormatan kepada Nabi, tidak bisa dibatasi oleh pergantian zaman. 
            Di kalangan para santri, potensi pemahaman dan penguasaan seni musik sebenarnya cukup signifikan, potensi ini dapatdi kembangkan “energi rohani” yang dapat digunakan untuk menggerakan nilai seni dan budaya. Musik dapat menjadi media pembinaan nilai-nilai karakter seseorang melalui cita rassa seni berperadaban. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk membangun kepribadian yang sehat dan kuat yaitu kepribadian religius. Dan pada gilirannya, nilai-nilai sufistik Qhasidah Burdah pun dapat ditanamkan sebagai media pembinaan yang efektif melalui syair-syair religius yang tersimpan didalamnya.
            Qhasidah Burdah adalah karya seorang penulis yang bergelar seniman dan ilmuan, bernama Imam Syaraf al-Din Abu Sa’id al-Busyiri, seorang ulama sufi, sehingga isi dari Qhasidah Burdah adalah pikiran-pikiran tenntang ajaran tasawuf. Jenis musikalitas Qhasidah Burdah, dimasukan ke dalam jenis madhchu-naby yang mengandung taranum musiqa atau senandung musik “arudly dengan bahar [wazan/segmen] al-basith menunjukan arti”terbentang/terpapar”. Ini karena memiliki jenis musik yang “memanjang datar” sehingga irama dari bait ke bait memberikan corak  yang hampir sama nada-nadanya, kecuali dalam segmen baittertentu [al-Qanna’iy, 1986:6].
            Karya al-busyiri dengan Qhasidah burdahnya telah memberikan pengaruh besar terhadap berbagai bentuk kesenian islam. Qhasidah burdah,  sebagai karya sastra arab masa lampau yang mendapat sambutan besar dari masyarakat sastra di sejumlah negara di lima benua dari abad ke abad. Kemunculan Qhasidah burdah pada masa kekuasaan dinasti mamluk, dipandang memiliki sejarah yang unik karena budaya arab pada masa itu, telah mengalami kemajuan besar pada masa sebelumnya. Kemudian pada separuh kekuasaan dinasti  mamluk, karya-karya sastra arab mengalami kemunduran secara kualitatif. Kemunculan Qhasidah burdah pada masa kemunduran ini di pandang sebagai secercah cahaya yang menyinari umat manusia yang hidup ditengah kegelapan [Manshur, 2007: 80].
            Qhasidah burdah merupakan karya sastra islam, karena mengandung cerita biografi nabi dan berisi ajaran-ajaran tasawuf yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk menjadi pijakan kehidupan spiritualnya. Sebagaimana pandangan Nasr [2003] didasarkan pada asumsi, sastra adalah cermin spiritualitas islam. Asumsi ini berimplikasi pada satu pandangan tentang islam dapat dipandang sebagai suatu budaya dan peradaban [IG.E.von Grunebaum dalam Waardenburg, 1993:87].
            Sastra islam yang berkembang di dunia arab, terutama dalam bentuk karya sastra arab berupa puisi [syair] dan prosa [natsr], telah berpengaruh kuat terhadap kelahiran Qhasidah Burdah pada abad ke 13 masehi. Sejarah sastra arab yang digunakan oleh al-Busyiri dalam Qhasidahnya.
            Kekuatan Qhasidah Burdah terletak pada pilihan kata-kata arab yang berpotensi fonisme, hingga orang yang membaca dan mendengarkannya akan mendapatkan pengalaman keindahan atau istilah jauss [1982:34] disebut fundamental experience of aesthetic.
            Al-Bushiry nama lengkapnya adalah Syaraf al-Din Muchammad bin sa’id Chammad bin Abdullah bin Shanhaji. Ia dilahirkan di Dalash,di desa Bani Yusuf pada tahun 1212 [abad ke-13]. Ayahnya keturunan Maroko, dari desa Abu Shayr. Dari kedua nama, Dalash dan Abu Shayr, muncul sebuah ungkapan ad-Dalashiry untuk nama Muhammad bin Sa’id. Akan tetapi, karena mungkin bagi orang arab ungkapan itu sulit di ucapkan dan sukar diingat, maka akhirnya ungkapan yang populer adalah al-Bushiry [Mawardi, 1994].
            Al-Bushiry adalah seorang penyair arab sekaligus sebagai sufi terkenal [Hadi, 200:42, Tottel, 1956:90] yang wafat di iskandariyah, Mesir pada tahun 1296 M dengan meninggalkan warisan Qhasidan Burdah yang dibaca di sejumlah besar masjid di mesir. Sebut saja Masjid al-Bushiry di iskandariyah, Masjid Imam Husayn, Masjid Tarekat Ja’fariyah, dan Masjid Siti Zaynab di Cairo, dan Majid Nabawi di Madinah. Di dinding masjid tersebut bait-bait Qhasidah Burdah ditempelkan [www.bbc.co.uk.2004;Manshur, 2006]
            Al-Bushiry kecil dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari al-quran dan ilmu-ilmu agama islam.Selanjutnya, al-Bushiry belajar kepada ulama-ulama yang hidup pada zamannya. Unntuk memperdalam ilmu agama dan kesusteraan Arab, ia pindah ke cairo, dan di kota inilah al-Bushiry menjadi seorang sastrawan [penyair] yang terkenal. Al-Bushiry termasuk penyair arab yang menghabiskan masa hidupnya untuk menulis puisi [Gwinn, 1990:667] dan kemahirannya di bidang sastra, khususnya puisi, telah melebihi para penyair lain pada zamannya. Selain itu, karya-karya kaligrafi al-Bushiry terkenal indah, bahkan ia memiliki keahlian dalam menyalin naskah-naskah www.amanah.or.id, Tottel 1952:90].  
            Al-Bushiry sangat bergairah dan bersemangat mendalami ilmu-ilmu agama islam dari berbagai guru, antara lain fiqih, hadits, dan terutama tasawuf. Berkat keluasan ilmu yang dimilikinya itu, al-Bushiry akhirnya diangkat menjadi mufti [pemberi fatwa] di Mesir yang bertugas memberikan fatwa-fatwa keagamaan kepada para pejabat pemerintah.
            Kecenderungannya kepada tasawuf itulah yang mendorong al-Bushiry untuk lebih memperdalam ilmu-ilmu tasawuf kepada guru sufi yang terkenal di mesir, yaitu Abu Hasan as-syadzily yang  kemudian kepada penerusnya Abu Abbas al-Marsiy [Glasse, 1996:65]. Berdasarkan keluasan ilmunya, al-Bushiry dipandang dan dipanggil sebagai al-imam, Al-Bushiry dianggap tidak hanya sebagai ahli tasawuf tetapijuga sebagai ahli hukum [syari’ah].
            Al-Bushiry hidup dimasa transisi peralihan kekuasaan dari dinasti Ayyubiyah ke dinasti mamluk Bachry. Masa ini adalah masa pergolakan politik yang tak ada henti-hentinya, kemerosotan akhlak melanda hampir seluruh negeri, para pejjabat pemerintahan mengejar kedudukan dan kemewahan. Pada masa yang suram inilah kemudianmuncul Qhasidah Burdah sebagai reaksi terhadap situasi politik, sosial, dan budaya yang terjadi pada masa itu. Al-Bushiry menyusun Qhasidah Burdah dengan harapan umat islam bisa mencontoh kehidupan nabi dalammangendalikan hawa nafsu dan kembali kepada ajaran agama yang murni, Al-quran dan hadits www.amanah.or.id.2004.
            Pada awalnya al-Bushiry dikenal sebagai penyair istana [poet of court] yang hidup dalam kehidupan lingkungan kekuasaan Dinasti Mamluk pada abad ke-13 Masehi. Qhasidah Burdah ditulis oleh al-Bushiry kira-kira antara tahun 1260- 1268 M www.alhambraproduction.com.2003 ketika ia berusia 50 tahun.
            Al-bushiry wafat pada usia 84 tahun, yaitu pada tahun 1296 M. Al-Bushiry menghabiskan sebagian besar masa hidupnya dilingkungan istana kerajaan Mamluk di Mesir sambil menulis puisi-puisi pujian untuk nabi dan para putra mahkota kerajaan [Qaribullah: 2002].
            Akan tetapi, setelah itu, Al-Bushiry memutuskan untuk mempelajari dan mendalami tasawuf melalui bimbingan dua orang sufi besar pada zamannya, yaitu Abu Hasan As-Syadzily dan Abu Abbas al-Marsy. Setelah meninggalkan lingkungan istana danmendalami tasawuf, wibawa al-Bushiry menjadi besar, orang-orang dari berbagai penjuru negeri berdatangan kepadanya untuk mendengarkan bait-bait puisi pujiannya kepada Nabi.
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar