Jumat, 04 Januari 2013

lanjutan bab lll


a.      Bersikap Sederhana
            Dalam perkembangan sufisme, banyak perilaku zuhud yang dipraktikan para tokoh. Tetapi dari sejumlah perilaku zuhud tersebut, masih banyak yang menyimpang dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW sangat mencintai akhirat, tetapi sikap tersebut tidak lantas membuatnya meninggalkan urusan keduniaan.
            Di zaman Nabi SAW, pernah ada sejumlah sahabat yang melakukan tindakan zuhud berlebihan, seperti tidak tidur semalaman karena sibuk ibadah, puasa setiap hari tanpa berbuka, hidup membujang sepanjang hayat, dan lain-lain. Atas perilaku sahabat ini, Nabi SAW justru memberi teguranbahwa ajaran islam tidak menghendaki cara-cara berlebihan seperti itu. Zuhud bukan berarti menghilangkan kebutuhan manusiawi, tetapi mengendalikannya sebik-baiknya.
            Dalam bait ke 29 sampai 34, sosok nabi sebagai pribadi sufi yang zuhud di tuturkan sebagai berikut:
Bait-ke 29
Transliterasi                   : [ Zhalamtu sunnatan man achyazh zhulama] (40) ila,
                                                  Anisy-takat qadamahudh dhurra min warami.
Terjemah Indonesia      : aku menzalimi abadah sunnah orang (Nabi SAW) yang menghidupkan kegelapan (malam), orang yang mengadukan deritanya (pada malam gelap itu) sehingga kakinya menjadi bengkak.
Bait-ke 30
Transliterasi                 : wa syadda min saghabin achsya-ahu wa thawa,
                                      [ Tachtal hijarati kasychan muthrafal adami](41).
Terjemah Indonesia      : Orang itu (Nabi SAW) mengikat perutnya sebab lapar, hingga ia mengikatkan batu di perutnya yang berkulit halus itu sekedar menahan laparnya.
Bait-ke 31
Transliterasi                   : Wa rawadathul jibalus syummi min zahabin,
                                      ‘An nafsihi [fa’araha ayyama syamami] (42).
Terjemah Indonesia      : Hingga gunung-gunung yang tinggi itu menawarkan diri untuk menjadi emas kepadanya (Nabi SAW). Tapi beliau tetap menolak tawaran itu.
Bait-ke 32
Transliterasi                   : Wa [akadat zuhdahu fiha dharuratuhu] (43),
                                      Innadh dharurata la ta’du ‘alal ‘ishami.
Terjemah Indonesia      :penderitaan-penderitaan itu bahkan menguatkan kezuhudannya (Nabi SAW) di dunia ini, sedangkan penderitaan-penderitaan itu baginya tidak akan mengurangi martabat dan derajatnya yang luhur.
Bait-ke 33
Transliterasi                   :  [Wa kaifa tad’u ilad dunya dharuratu man,
                                      Lau la hu lam takhrijud dunya minal ‘adami] (44).

Terjemah Indonesia      : Seperti apkah penderitaan orang itu bisa menarik dunia ini. Seandainya orang itu tiada, pasti dunia ini tiada diciptakan.
Bait-ke 34
Transliterasi                   : [Muhammadun sayyidul kaunaini wats tsaqalain,
                                      Wal fariqaini min ‘urbin wa min ‘ajami] (45). 
Terjemah Indonesia      : Yaitu Nabi Muhammad SAW yang menguasai (jadi pimpinan) dunia dan akhirat, pemimpinnya manusia dan jin, dan pemimpin bangsa Arab dan ‘Ajam (non Arab).

            Pada bait ke-29, sebuah pengakuan terungkap dengan jujur dari sang pengarang, “ Zhalamtu sunnatan man ahyazh zhalam” (aku menzhalimi ibadah sunnah orang (Nabi SAW) yang menghidupkan kegelapan (malam). Pengarang mengakui ia telah berbuat zalim karena telah meninggalkan jejak kezuhudan yang dipraktikan Nabi Muhammad SAW. Di antara praktik zuhud Nabi SAW adalah senantiasa beribadah di malam hari, disaat manusia terbuai dalam tidur yang lelap. Demikian khusuknya Nabi melakukan shalt malam, hingga beliau tak memperdulikan kakinya yang bengkak karena terlalu lama berdiri shalat. Malam adalah salah satu waktu yang utama dan mustajab (dikabulkan do’a). Di malam hari, Allah SWT begitu sangat dekat dengan hambanya yang menunaikan salat tahajud sehingga setiap do’a yang dipanjatkan akan terkabulkan. Inilah contoh zuhud yang di praktikan Nabi SAW.
Dalam bait ke-30, disebutkan contoh prilaku zuhud lainnya yang dilakukan oleh Nabi SAW “ Tahtal hijarati kasyhan muthrafal adami” ( ia mengikatkan batu diperutnya yang berkulit halus itu sekadar menahan laparnya). Menahan lapar merupakan salah satu metode zuhud. Lapar lawan dari kenyang. Bila makan terlalu kenyang, otak dan hati akan tidur, dan syahwat akan bangkit.
            Pusat syahwat berada dari perut. Menahan lapar berarti usaha mengendalikan syahwat, dan itu berarti akan memperluas kesempatan bagi otak untuk berfikir dan membuka ruang bagi hati untuk merasa. Nabi SAW rela melilitkan batu di perutnya untuk menahan perihnya rasa lapar, sehingga kelaparan itu tidak mengganggu ibadahnya kepada Allah SWT.
            Pada bait-ke 31 sampai baik ke-34, terkandung makna yang menjelaskan totalitas zuhud dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. [fa-araha ayyama syamami] (beliau tetap menolak tawaran itu), [akkadat zuhdahu fiha dharuratuhu] (Penderitaan-penderitaan itu bahkan menguatkan kezuhudannya (Nabi SAW), [Wa kaifa tad’u ilad dunya dharuratu man, lau la hu lam takhrujid dunya minal ‘adami] (seperti apakah penderitaan orang itu bisa menarik dunia ini. Seandainya orang itu tiada, pasti dunia ini tiada di ciptakan), dan [muhammadun sayyidul kaunaini wats tsaqalain, Wal fariqaini min ‘urbin wa min ‘ajami] (Yaitu Nabi Muhammad SAW yang menguasai (jadi pimpinan) dunia dan akhirat, pemimpinnya manusia dan jin, dan pemimpin bangsa Arab dan ‘ajam (non Arab).
            Keempat bait ini menjelaskan tingkat zuhud Nabi SAW yang sangat tinggi. Tingkat zuhud tidak dapat dikatakan sudah sangat tinggi, kecuali bila telah melampaui ujian yang maha berat. Ujian yang di berikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah berupa tawaran seisi alam dunia yang nilai materinya tentu sangat tinggi, ditambah status beliau yang melebihi semua makhluk sehingga dapat mengendalikan dunia mereka.
            Tetapi  Nabi SAW tetap menolaknya, dia tidak terpikat dengan keindahan dan kekayaan dunia. Sementara statusnya sebagai makhluk terbaik di dunia dan di akhirat tak membuatnya lupa diri. Nabi SAW tetap memilih sikap zuhud, meninggalkan hal-hal yang bernilai duniawi berupa harta dan kekuasaan, serta rela menempuh penderitaan dan pengorbanan sebagai bekal di akhirat. Ini adalah contoh terbaik bagaimana sikap zuhud seharusnya dilakukan.

b.      Pribadi Paripurna
            Taqwa berasal dari kata waqa-yaqy-wiqayatan yang berarti “ menjaga, melindungi, memperbaiki, takut, waspada, dan berhati-hati”. Dalam konteks sufistik, taqwa berarti “upaya untuk mematuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya”.
            Sufi adalah orang yang menyadari status dirinya sebagai hamba Allah SWT. Perintah dan larangan Allah SWT terhadap semua makhluk bertujuan agar tercipta keteraturan dan keharmonisan hidup di dunia dan di akhirat. Dengan ketaqwaan, keteraturan hidup tidak hanya tercipta dalam tataran  individual, tetapi juga dalam dimensi sosial yang lebih luas.
            Nilai sufistik tentang taqwa dan terdapat dalam bait berikut:
Bait ke-35
Transliterasi                   : [Nabiyyatul amirun nahi fa la ahadun,
                                      Abarra fi qauli la minhu wa la na’ami] (46).
Terjemah Indonesia      : Nabi kita (Nabi SAW) yang selalu memerintahkan (kebaikan) dan selalu mencegah (dari kemungkaran). Maka tiada seorangpun yang lebih baik dalam perkataan dan perbuatan dibanding dengan beliau.
            Pada bait ke-35, taqwa terkandung dalam kalimat [Nabiyyunal amirun nahi fa la ahadun, Abbarrafi qawli la minhu wa la na amin] (Nabi kita)  (Muhammad SAW) yang selalu memerintahkan (kebaikan) dan selalu mencegah (dari kemungkaran). Makatiada seorang pun yang lebih baik dalam perkataan dan perbuatan dibanding dengan beliau).
            Takwa merupakan sikap yang senantiasa diperintahkan oleh Nabi SAW kepada umatnya. Nabi sendiri merupakan sosok yang telah memperlihatkan nilai ketaqwaan dalam tingkatnya yang paripurna. Namun yang paling disesalkan, ada sebagian umatnya yang terlalu berlebihan dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT, sehingga perbuatanya itu melanggar batas-batas fitrah manusia. Padahal, ketaqwaan yang diperaktikan Nabi SAW adalah ketaatan yang tidak melewati ambang batas kewajaran sebagai manusia.

c.       Sebagai Kekasih Allah   
            Nabi Muhammad SAW mendapatkan posisi terhormat sebagai habib (kekasih) Allaoh dan umatnya. Rasa cinta umat islam kepada beliau bersumber dari karakter nabi SAW yang selalu menebarkan cinta kasih kepada siapapun, baik kepad Allah SWT, sesama manusia, maupun makhluk lainnya. Status habib (kekasih) merupakn pantulan (feedback) dari kesempurnaan akhlak Nabi SAW.
            Seorang sufi sejati, tidak semata mementingkan nilai sufistik secara individual, tetapi juga menyertainya dengan nilai sufistik sosial.

Bait ke-36
Transliterasi                   : [Huwaal habib ul ladzi turja syafa’atuhu,
                                      Abarra fi qauli la minhu wa la na’ami] (47).
Terjemah Indonesia      : beliau adalah kekasih yang selalu dinanti dan diharapkan syafa’atnya (pertolongannya) dari segala malapetaka yang menimpa.
            Pada bait ke-36, Nabi SAW digambarkan sebagai [huwal habib] (beliau adalah kekasih), artinya sebagai pribadi yang selalu dicintai. Selama hidupnya, Nabi SAW selalu mengasihi sesama manusia, bahkan terhadap musuhnya sekalipun. Dalam sebuah hadits dikisahkan, Nabi SAW pernah mengunjungi orang yang sakit, padahal dia sebelumnya selalu menyakiti nabi SAW. Rasa cinta kasih beliau telah menghapus segenap rasa dendam walaupun terhadap orang yang pernah menzalimi bbeliau. Bahkan dalam keadaan perang sekalipun, sebagai panglima perang tertinggi, Nabi SAW tetap memerintahkan pasukannya untuk tidak menyakiti musuh yang telah kalah menyerah, tidak mengusik orang-orang kafir yang tidak ikut berperang, serta tidak menganiaya anak-anak dan wanita kafir. Bahkan Nabi menyerukan agar tidak merusak infrastruktur sosial ekonomi orang kafir seperti lahan perkebunan, pepohonan dan lain-lain. Hal ini mencerminkan pribadi Nabi sebagai orang yang selalu mencintai dan dicintai oleh Allah dan umatnya.
           
d.      Sebagai Penjabar Al-Quran
            Yang dimaksud dengan hablillah (tali Allah) tiada lain adalah Al-Quran. Jadi, konsep i’tisham bi hablillah berarti memegang teguh ajaran-ajaran Allah yang tterdapat di dalam Al-Quran. Seorang sufi sejati memiliki sikap dan tingkah laku yang tidak keluar jalur dari jalan Allah SWT. Agar berada di jalan Allah, maka umat Islam tinggal mengikuti apa yang telah secara konkrit dilakukan oleh Nabi SAW. I’tisham bi hablillah adalah spirit untuk memberi solusi terhadap instabilitas kehidupan manusia yang jauh dari tuntunan illahi.
            Nilai sufistik tentang I’tisham bi hablillah terdapat dalam bait berikut:

Bait ke-37
Transliterasi                   : [Da’a ilallahi fal mustamsikuna bih,
                                      Mustamsikuna bi hablin ghaira munfashimi] (48).
Terjemah Indonesia      : Beliau Nabi SAW mengajak kepada (agama) Allah dan beliau berpegang teguh padanya, (bagaikan) berpegang teguh pada tali (ikatan) yang tak putus.
           
            Dalam bait tersebut, terdapat lafadz mustamsikuna bihi yang berarti orang-orang yang berpegang teguh terhadap agama Allah SWT, yakni islam. Rasulullas SAW di utus oleh Allah SWT ke muka bumi ini untuk mengajak umat manusia berpegang teguh kepada agama Allah SWT, yaitu islam. Barang siapa yang berpegang teguh kepada islam; yakni menjalankan segala perintah nya dan menjauhi segala larangannya, berarti dia memiliki pegangan yang kuat dan sulit untuk dilepaskan.
            Sebagai teladan terbaik, Nabi Muhammad SAW mengajak seluruh umat manusia, terlebih kepada umatnya, untuk senantiasa melakukan kebaikan dan menebarkan perdamaian. Bila seruannya itu di tunaikan oleh umatnya, maka ketentraman dan keberhasilan dalam hiduppun akan tercapai. Demikian pula beliau selalu mencegah dan melarang berbuat kerusakan, baik kerusakan yang akan berdampak di dunia ini maupun yang akan terjadi di akhirat kelak. Kekuasaan umumnya selalu mendorong manusia untuk bersikap sombong, dan angkuh. Namun tidak demikian halnya dengan Nabi, meskipun memiliki kekuasaan yang sangat luas, beliau selalu menunjukan sikap rendah hati yang ramah terhadap sesama manusia.

e.       Pandai Berserah Diri
            Tawakkal berasal dari kata tawakkala- yatawakkalu- tawakkulan yang berarti “ mewakilkan atau menyerahkan sesuatu urusan kepada selain dirinya”. Dalam ruang lingkup ajaran sufistik, tawakkal berarti “ menyerahkan segenap urusan pribadinya kepada Allah SWT setelah melakukan usaha yang optimal (ikhtiar)”.
            Setelah berikhtiar, seorang sufi sejati selalu berserah diri kepada Allah SWT. Sufi sejati selalu byakin bahwa hanya Allah-lah yang akan menentukan hasil akhir dari semua usaha yang telah ia curahkan. Tawakkal merupakan rangkaian akhir dari ikhtiar (optimalisasi diri) dan merupakan sebuahh sikap husnuzhan (berbaik sangka) terhadap Allah SWT.
            Pribabi Nabi SAW yang tawakkal kepada Allah secara implisit terdapat dalam bait ke-77:

Bait ke-77 
Transliterasi                   : [ Fash-shidqu fil ghari wash-shidqu lam yari,
                                      Wa hum yaquluna ma bil ghari min arami] (49).
Terjemah Indonesia      : adapun orang yang benar (Nabi SAW) dan yang membenarkan (Abu Bakar AS) di dalam gua tiada pergi, tetapi orang-orang kafir berkata bahwa didalam gua itu tiada seorang pun yang tinggal.
            Dalam bait tersebut digambarkan sekelumit peristiwa yang terjadi saat Nabi SAW hijrah ke Yatsrib (Madinah), dittemani Abu Bakar As-Shiddiq. Pada saat hijrah, status Nabi Muhammad SAW adalah “ buronan” kaum kafir Quraisy. Para pemuka Quraisy menyerukan untuk menangkap nabi, hidup atau mati. Ini merupakan bentuk konspirasi orang kafir untuk menghapus ajaran Islam dan pimpinannya.
            Konspirasi yang melibatkan semua kabillah Mekkah ini tentu saja menyulitkan nabi untuk dapat selamat dari kejaran mereka. Namun, Nabi Muhammad SAW tetap berikhtiar untuk bisa keluar dari rumahnya untuk berhijrah. Dengan sebuah strategi ikhtiar yang penuh perhittungan, bersama Abu Bakar, nabi hijrah ke Madinah dengan menempuh jalur yang tidak biasa di tempuh ole suku Quraisy.
            Dalam perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk tinggal sebentar di gua Tsur yang terletak di selatan Mekkah. Ini dilakukan untuk mengecoh perhatian mereka. Tetapi ikhtiar ini pun akhirnya terbaca oleh suku Quraisy , sehingga mereka mengejar Nabi Muhammad SAW sampai ke gua Tsur. Saat ada beberapa orang Quraisy yang tiba menghampiri mulut gua tersebut, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar pun berserah diri kepada Allah SWt akan nasib hidup mereka berdua dengan mengatakan: “ ...innallaha ma’ana (sesungguhnya tuhan bersama kita).
            Kemudian Allah SWT pun mematahkan logika orang kafir dengan menghadirkan laba-laba yang sedang tenang diam di jaring-jaring yang di buatnya, dan burung merpati yang sedang diam di sarangnya dengan tenang di  mulut gua tersebut. Dengan kehadiran dua makhluk tersebut, orang kafir yang berada di mulut gua pun terkecoh, mereka berfikir tidak mungkin nabi Muhammad SAW dan Abu bakar ada di dalam gua.
           
zhan  bi�'(� terhadap Allah SWT.
            Pribabi Nabi SAW yang tawakkal kepada Allah secara implisit terdapat dalam bait ke-77:

Bait ke-77 
Transliterasi                   : [ Fash-shidqu fil ghari wash-shidqu lam yari,
                                      Wa hum yaquluna ma bil ghari min arami] (49).
Terjemah Indonesia      : adapun orang yang benar (Nabi SAW) dan yang membenarkan (Abu Bakar AS) di dalam gua tiada pergi, tetapi orang-orang kafir berkata bahwa didalam gua itu tiada seorang pun yang tinggal.
            Dalam bait tersebut digambarkan sekelumit peristiwa yang terjadi saat Nabi SAW hijrah ke Yatsrib (Madinah), dittemani Abu Bakar As-Shiddiq. Pada saat hijrah, status Nabi Muhammad SAW adalah “ buronan” kaum kafir Quraisy. Para pemuka Quraisy menyerukan untuk menangkap nabi, hidup atau mati. Ini merupakan bentuk konspirasi orang kafir untuk menghapus ajaran Islam dan pimpinannya.
            Konspirasi yang melibatkan semua kabillah Mekkah ini tentu saja menyulitkan nabi untuk dapat selamat dari kejaran mereka. Namun, Nabi Muhammad SAW tetap berikhtiar untuk bisa keluar dari rumahnya untuk berhijrah. Dengan sebuah strategi ikhtiar yang penuh perhittungan, bersama Abu Bakar, nabi hijrah ke Madinah dengan menempuh jalur yang tidak biasa di tempuh ole suku Quraisy.
            Dalam perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk tinggal sebentar di gua Tsur yang terletak di selatan Mekkah. Ini dilakukan untuk mengecoh perhatian mereka. Tetapi ikhtiar ini pun akhirnya terbaca oleh suku Quraisy , sehingga mereka mengejar Nabi Muhammad SAW sampai ke gua Tsur. Saat ada beberapa orang Quraisy yang tiba menghampiri mulut gua tersebut, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar pun berserah diri kepada Allah SWt akan nasib hidup mereka berdua dengan mengatakan: “ ...innallaha ma’ana (sesungguhnya tuhan bersama kita).
            Kemudian Allah SWT pun mematahkan logika orang kafir dengan menghadirkan laba-laba yang sedang tenang diam di jaring-jaring yang di buatnya, dan burung merpati yang sedang diam di sarangnya dengan tenang di  mulut gua tersebut. Dengan kehadiran dua makhluk tersebut, orang kafir yang berada di mulut gua pun terkecoh, mereka berfikir tidak mungkin nabi Muhammad SAW dan Abu bakar ada di dalam gua.
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar